Jayapura, Nokenlive.com
Pohon mangrove memiliki fungsi yang sangat besar bagi lingkungan hidup. Hutan mangrove selain memiliki fungsi menahan arus air laut agar tidak mengikis daratan garis pantai, buhanya dimaanfaatkan masyarakat menjadi berbagai panganan bernilai ekonomi.
Akar mangrove yang begitu rumit juga membuat hutan ini menarik bagi ikan ikan untuk berkembang, mencari makan serta tempat berlindung dari serangan predator.
Masyarakat pedesaan disekitar laut umumnya bekerja sebagai nelayan bergantung pada lingkungan alam untuk menafkahi keluarga mereka melalui hutan pohon yang bernama latin, Rhizophora.
Salah satunya datang dari mama Lidia Meraudje.
Perempuan asal kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura itu sehari-hari mengumpulkan buah pohon manggrov atau dalam bahasa kampung Enggros, dikenal dengan nama ” Buah Fiuw “.
Mama Lidia Meraudje mengumpulkan buah manggrov lalu ditanam dalam plastik koker, kemudian hasil tanam buah manggrov dijual guna memenuhi kebutuhan sehari hari keluarga.
“Saya menanam buah manggrov ini, lalu dijual kepada dinas atau komunitas pencinta lingkungan, tapi juga kepada pemerintah kampung Enggros,” jelas mama Lidia Meraudje, saat dijumpai wartawan nokenlive.com, Sabtu, (15/10/22).
“Untuk perbibitnya saya jual dengan harga Rp10.000, ” ujar mama Lidia Meraudje.
Pandemi covid -19 yang menghantam dunia, termasuk santero Indonesia juga berdampak di kota Jayapura memaksa anak anak harus belajar dirumah secara online.
Belajar online tentunya membutuhkan biaya tambahan pulsa paket internet. Mama Lidia Meraudje menyampaikan hasil jualan bibit buah pohon manggrov digunakan keperluan pendidikan anaknya membeli pulsa paket internet agar bisa belajar online selama pandemi covid-19.
Dengan kegiatan membudidayakan pohon manggrov, mama Meraudje telah ikutserta melestarikan hutan manggrov di tanah Tabi tepatnya teluk Youtefa, Port Numbay tetap terjaga dan berkelanjutan bagi generasi penerus dimasa mendatang.
Warga Enggros “sulap” buah menggrov jadi aneka makanan dan minuman segar
Sosok perempuan kampung Enggros lainnya juga memaanfaatkan buah manggrov, adalah mama Petronela Meraudje.
Mama Petronela Meraudje “sulap” buah pohon manggrov sebagai aneka kuliner makanan dan minuman yang bernilai ekonomis.
Mama Petronela Meraudje mengolah buah pohon manggrov berbagai aneka bahan makanan dan minuman dengan teknik sederhana.
“Saya mengolah buah manggrov ini menjadi aneka makanan dan minuman yakni sirup, puding, slei, dan es krim,” jelas mama Petronela Meraudje.
“Bahan dasar buah manggrov juga dijadikan pembersih tangan handsanitaiser,” singkatnya.
Mama Petronela Meraudje sebagai pengrajin sekaligus pengusaha aneka makanan berbahan dasar buah manggrov menyampaikan, untuk harga makanan dan minuman hasil olahan buah manggrov bervariasi mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000.
“Semuanya bisa dipesan secara online juga diantarkan ke tempat tujuan,” katanya.
Petronela Meraudje beryukur dimana pelaksanaan Kongres Masyarakat Adat Nusantara ke- VI di Tanah Papua, tepatnya di kabupaten dan Kota Jayapura, aneka makanan dan minuman dari bahan dasar buah manggrov seperti sirup, es krim, puding, slei, serta handsanitaizer telah dipesan panitia sebanyak 1000.
Untuk meningkatkan usahanya, mama Petronela Meraudje mengharapkan dukungan modal dari pemerintah kota Jayapura lewat instasi terkait yaitu Disperindagkop UMKM kota Jayapura.
Ia berharap pemerintah kota Jayapura dapat membantu pengusaha orang asli Papua lebih khusus pengusaha Port Numbay, guna memajukan usaha mereka baik kerajinan tangan, usaha kuliner, pemanfaatan pekarangan untuk kebun bibit, maupun jenis usaha yang memanfaatkan daur ulang bahan bekas.
“Semua ini dalam rangka meningkatkan ekonomi rumah tangganya, tapi juga ikut melestarikan lingkungan alam sekitar supaya tidak terjadi kepunahan dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak tercemar oleh sampah rumah tangga,” tutup Petronela Meraudje.(ANDIKA PAMAN)





Apa komentar anda ?