Sentani, Nokenlive.com – Kebakaran hutan dan lahan dari tahun ke tahun selalu menjadi masalah di Indonesia. Sayangnya dari Undang-Undang yakni UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Panduan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak berhasil memberikan efek jera kepada para pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Demikian sama halnya dengan kebakaran hutan sagu yang terjadi di Papua terlebih khususnya di Kabupaten Jayapura yang belakangan ini lagi marak terjadi.
Hal itu membuat para pelaku seni angkat bicara, Vicky Smith selaku Ketua Komunitas Musik Pop Jayapura itu menuturkan bahwa kebakaran hutan sagu ini perlu ada tanggapan serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura.
“Karena sagu ini merupakan makanan pokok orang asli Papua (OAP) yang tidak bisa di hilangkan begitu saja, sagu ini suda ada sejak dari dulu hingga sekarang, yang tentunya banyak manfaat yang ada didalamnya,” tutur Vicky Smith.
Lanjut Vicky Smith, sebagai pelaku seni sangat menyayangkan hal ini. Untuk itu saya pikir kalau memang alasan pembakaran hutan sagu untuk pembangunan jalan, bagunan rumah dan lain sebagainya, tentunya harus di sosialisasikan dulu kepada masyarakat sekitar.
Agar masyarkat bisa memahami baik, tentang apa maksud dan tujuan dari pembakaran tersebut. Karena sagu ini merupaka makanan tradisonal oarang Papua yang tidak akan pernah hilang,” ucap Vicky Smith kepada awak media belum lama ini.
“Sebagai orang seni dan pemerhati musik di Jayapura, melihat sagu bukanlah hal yang sepeleh. Tetapi sagu ini merupakan hal yang harus di pikirkan Pemerintah,” tegas Vicky Smith.
Untuk itu kata Vicky Smith, sebagai pelaku musik menilai terbakarnya hutan sagu ini membuat saya merasa sangat kehilangan. Karena kita tahu bersama bahwa manfaat dari dari pohon sagu ini sangatlah besar, yaitu dari daunnya hinga sampai akarnya.
Menurutnya sagu sagatlah penting baginya. Sehingga bagi orang Papua yang merasa sagu tidak penting, itu berarti orang itu tidak hidup didalam kebudayaan yang suda ada dari nenek moyang duluh.
Bagi saya sagu itu penting karena sudah menjadi darah daging saya maupun orang asli Papua. Untuk itu saya sebagai pelaku seni sangat berharap Pemerintah bisa lebih bijak menggapi persoalan ini .
Artinya berilah sosialisasi kepada masyrakat, supaya masyarakat tau apakah nanti ada pengantinya atau kah pembangunan yang masuk ke lokasi sagu itu apakah ada manfaatnya atau tidak bagi masyarakat setempat.
Kalau memang ada manfaatnya berarti boleh-beleh saja, tetapi kalau tidak berarti kita akan rugi besar atau kehilangan jadu lebih baik tidak boleh. Karena itu sama saja membunuh kami, ungkapnya.
(Tinus/Jack)





Apa komentar anda ?