Jayapura Nokenlive.com – Wakil Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Papua Rocky Bebena menyebut penggunaan lima pemain professional dalam berlaga pada penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 20 Papua 2020 nantinya dapat menghambat pembinaan sepakbola usia muda.
Oleh karena itu regulasi PSSI yang sudah dikirimkan dapat direvisi kembali dan meminta agar pemain yang akan berlaga di PON merupakan pemain amatiran.
“Dengan adanya surat edaran tersebut, kita sudah menjawab lagi dan meminta kebijakan PSSI dengan tanpa pemain profesional. Karena yang pertama pemain profesional itu berbeda dengan pemain amatir, dan tidak mungkin pelatih di tim profesional tidak mengijinkan main di PON, apalagi kalau bagian dari pemain yang dibutuhkan karena itu akan mengganggu kinerja tim,” ujar Rocky Bebena kepada pers belum lama ini di Jayapura, Senin (22/04/2019).
Dikatakan bahwa permintaan pemain PON harus amatir, sebab dengan begitu akan banyak pemain muda yang muncul dan bisa memberikan kontribusi bagi sepakbola Indonesia kedepannya.
“Kita menginginkan ada yang muncul lagi yang baru, kemudian hal lain kenapa harus semua pakai pemain matir, karena tidak disemua Asprov memiliki kuota pemain profesional. Dan juga jika semua pemain amatir maka kita bisa ukur kemapuan setiap Asprov, karena kompetisinya seimbang,” jelasnya.
“Sebenarnya kita sudah menyurat ke PSSI sebelum surat edaran itu keluar, dalam surat yang kami kirim sesuai dengan hasil rapat exco PSSI Papua. Kami meminta untuk tidak memakai pemain profesional, semua harus pemain amatir,” tambahnya.
Pria yang menjabat juga sebagai Kadispora Kota Jayapura ini mengakui pemain yang berlaga di PON nantinya merupakan kelahiran 1998, apalagi menurutnya tuan rumah pelaksanaan PON memiliki wewenang dalam regulasi berdasarkan hasil rapat EXCO PSSI Papua yang sudah disurati langsung ke PSSI Pusat untuk ditindaklanjuti.
Sehingga dalam waktu dekat Technical Delegate sepakbola akan meninjau langsung venue yang digunakan sebagai babak penyisihan hingga partai final sekaligus memastikan regulasi yang ditetapkan.
“Itu yang kita harapkan dari keputusan PSSI, sementara soal tahun kelahitan 1998 itu sudah bagus, karena juga ada kepentingan ke Timnas U-20 dan Asprov PSSI Papua sudah setuju soal itu. PSSI harus membalas surat kami, karena ini merupakan surat kami yang kedua, TD sepak bola juga segera harus datang untuk meninjau venue yang akan digunakan sebagai babak penyisihan hingga partai final, dan memastikan regulasi yang akan kita tetapkan,” tandasnya.
(Yod)





Apa komentar anda ?