Sentani, Nokenlive.com – Seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi tranportasi modern saat ini, ancaman kepunahan perahu tradisional Sentani semakin nampak di depan mata, era moderenisasi, tuntutan ekonomi, tingkat mobilisasi manusia dan barang menjadi faktor pemicu masyarakat mengunakan transportasi penyebarangan danau yang lebih praktis, efisien, terjangkau baik dari sisi waktu juga biaya.
Tanpa disadari hal – hal ini yang mengakibatkan pergeseran nilai – nilai dalam pola hidup masyarakat Sentani yang berdampak pada mulai terkikisnya nilai–nilai budaya yang tanpa disadari masyarakat bahwa warisan budaya suku orang Sentani mulai punah seiring berjalannya waktu.
Sedangkan Perahu Tradisional Orang Sentani memilik makna filosofis yang dalam dan nilainya sangat tinggi jika dinilai dari berbagai dimensi seperti ideologi politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Jika dilihat dari ideologi politik dari dimensi yang sempit sebagai sarana dan prasarana, akomodasi dan kepentingan politik dikaitkan dengan filosofi Perahu Sentani secara fisik tanpa menggunakan seman (penyeimbang) sebagaimana perahu pada umumnya guna menjaga keseimbangan, sehingga secara filosofi politis menjadi karakteristik kuat orang suku Sentani mampu memainkan peran sebagai penggerak, juga menstabilkan dan dapat menyesuaikan diri dalam mencapai tujuan organisasi.
Dalam dimensi sosial budaya melatih pemuda di kampung untuk hidup bergotong royong bersama-sama ke hutan mencari kayu terbaik yang biasa digunakan untuk membuat perahu kemudian dikerjakan bersama-sama diselingi dengan lantunan lagu-lagu pemberi semangat dalam bekerja dan ini memiliki seni tersendiri.
Selain sebagai alat transportasi masyarakat, perahu ini juga digunakan sebagai sarana penunjang perekonomian masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai petani dan nelayan, yang sejak dulu bagi tiap rumah memiliki perahu tersebut sehingga sangat menunjang perekonomian masyarakat namun sekarang perahu – perahu tradisional ini sudah jarang dimiliki warga di tiap-tiap rumah.
Penggalangan pemuda-pemuda terbaik di Kampung di masa itu paling efektif dilakukan melalui pembuatan perahu, berkebun dan atau berburu (Ella) di mana generasi muda dilatih agar cakap dalam bekerja untuk kemasyuran nama kampung dan mempertahankan nama besar kampung dan juga menjadi kekuatan kampung guna mempertahankan diri dari ancaman yang datang dari dalam maupun luar kampung, namun hal ini sudah jarang dilakukan di kampung-kampung di danau Sentani.
Papua begitu kaya akan nilai kearifan lokal khususnya di Sentani, namun jika kita tidak mempertahankan jati diri dan budaya kita, maka akan terjadi generasi tanpa budaya yaitu generasi global yang tanpa sekat dan batasan, yang nantinya nilai – nilai kearifan lokal Sentani terkikis dan punah.
(VJ)





Apa komentar anda ?