ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Redaksi Nokenlive.com
  • Advertise
  • Syarat dan Ketentuan
  • Contact
  • Ketentuan Penggunaan
Rabu, Mei 13, 2026
  • Home
  • Papua Terkini
  • Papua Pegunungan
  • Papua Tengah
  • PAPUA SELATAN
  • Kabar Port Numbay
  • Hukum & Kriminal
  • Home
  • Papua Terkini
  • Papua Pegunungan
  • Papua Tengah
  • PAPUA SELATAN
  • Kabar Port Numbay
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Home
  • Papua Terkini
  • Papua Pegunungan
  • Papua Tengah
  • PAPUA SELATAN
  • Kabar Port Numbay
  • Hukum & Kriminal

Home » Demam Produksi Musik Apa Di Papua? (Bagian 2)

Demam Produksi Musik Apa Di Papua? (Bagian 2)

Oleh : Noken Live
27 Februari 2019
Di UKM, Bisnis dan Keuangan
0
Demam Produksi Musik Apa Di Papua? (Bagian 2)

Asei Faa Rap Crew usai menghibur narapida di Lapas Doyo, Kabupaten Jayapura, Tahun 2018 lalu - Istimewa

JAYAPURA, NokenLive.com – Genre musik apa yang berkembang cepat ke wilayah Indonesia bagian timur dalam kurun beberapa tahun terakhir. Apakah perkembangan ini dampak dari kemajuan perkembangan teknologi yang semakin pesat ataukah ada hal lain? simak lanjutan ulasan NokenLive.com

Sebelumnya Markus mengaku dampak negative dari perkembangan teknologi saat terhadap musikalitas atau skill individu dalam memainkan alat musik, karena semua instrument atau sound yang dibutuhkan telah tersedia di software (perangkat lunak komputer) musik dan digunakan setiap pelaku musik. “Kesemuanya itu adalah satu jalan mudah untuk merangkum sebuah lagu yang akan diproduksi,” tutup Markus.

Salah satunya seperti grup musik Asei Faa Rap Crew (AFRC) yang beranggotakan tujuh orang, juga mengharumkan nama Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Bagaimana tidak, lagu pertama kumpulan anak asli Papua ini mampu mengharumkan tanah kelahiran mereka sendiri di Bumi Cenderawasih. Lagu yang kini menjadi hits yakni Sentani

Berikut linknya https://www.reverbnation.com/aseifaarapcrewafrc/song/30242677-sentani_afrc

Grup musik ini berdiri tahun 2013 di KotaMalang, JawaTimur diprakarsai Astus Hartzler Puraro dan Roy Brian Anthony awal grup AFRS terbentuk dari sebuah hobby bermusik dan bernyanyi. Seiring waktu ide-ide kreatif muncul dari kerabat maupun keluarga yang mengilhami sebuah tema, dan kian bertambah untuk menciptakan potongan kata hingga lirik berisikan pesan moral dan budaya.

Kampung halaman grup musik ini bernama Asei atau Ohei yang bermukim di wilayah Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Sekumpulan pemuda ini tak membatasi siapa saja untuk bergabung kedalam grup AFRC, terpenting dan diharuskan adalah anak asli atau peranakan ‘MeanggeFafa lahir besar SentaniTimur.

Salah satu pelaku musik di Papua Sirga Rumagesan - Indra
Salah satu pelaku musik di Papua Sirga Rumagesan – Indra

Astus Hartzler Puraro mempunyai tekad untuk mengangkat budaya lokal papua melalui karya musiknya yang berisikan pesan moral kepada masyarakat akan nasehat nasehat untuk membangun negeri tercinta Bumi Cenderawasih.

Dan yang terlebih penting dalam mempromosikan satu objek budaya kita yang menjadi daya tarik wisata atau destinasi budaya, kata Astus sambil tersenyum simpul.

Menurutnya, banyak sekali yang bisa dijadikan tema pada pembuatan karya seni berupa nyanyian, salah satunya mengangkat tema dari pangan lokal seperti papeda, betatas, kasbi, ulat sagu, sagu bakar, bakar batu, barapen dan lainnya.

Permasalahannya kami tidak punya home studio, kami hanya bisa berkreasi dengan wadah kamar tidur saya, dan dari kami untuk kami maka itu ada salah satu keponakan saya Evert Puhiri meminjamkan laptop untuk kami dapat produksikan lagu, ujar vokalis Asei Faa Rap Crew ini.

Tak tersentuh dengan sumbangan donator dan pemerintah, dikatakan Astus, walaupun adanya sedikit pengetahuan mereka untuk memakai aplikasi FL Studio dan Adobe audition membuatnya terus melangkah pada pembuatan lagu Sentani tersebut, katanya.

Sejak dari tahun 2013 mereka hanya produksi satu lagu berjudul “I am The King” duet dengan S.O.S.O.I Rap dari Tual maluku tenggara. Sajauh ini yang mendukung penuh adalah keluarga dan solidnya personil ini menjadi satu kekuatan buat mereka.

“Saat buat lagu pertama statusnya masih kuliah,dan di saat launching lagu Sentani, status personil lainnya sudah bekerja dan kuliah. Sekarang kami sudah ada lima lagu terpampang di website reverbnation.com,  ujarnya.

Keinginan paling utama dari mereka, ingin mempromosikan budaya Papua yang sudah hampir punah oleh budaya asing dan ingin memperkenalkan kepada setiap pribadi masyarakat papua akan nilai-nilai budaya, terlebih khusus kepada generasi anak negeri Papua.

Setelah prosuksi lagu tahun 2013, pada tahun 2018 kami prosuksi lagu ke dua. Dan kami rencana akan buat lagu lagi berjudul Sagu, ujarnya.

Ia juga berpesan kepada pecinta Rap untuk terus berkarya dengan melihat kepada kearifan lokal dan budaya Papua, tanpa harus terpengaruh dengan budaya luar, agar jati diri dan harkat martabat orang Papua tidak tercoreng di hadapan publik serta juga mampu mengapresiasikan diri kepada nusantara akan nilai nilai budaya Papua.

Bagi pecinta Rap jangan ada rasis antar budaya dan agama, dan juga dapat memberikan kritikan kepada birokrasi pemerintah yang bekerja tidak benar,serta motivasi motivasi akan hidup namun yang terpenting dalam mengkritisi harus ada solusi, katanya.

Berbeda dengan Sirga Rumagesan, pemusik lokal ini memproduksi lagu di zaman modern saat ini. Anak kandung dari Almarhum David Rumagesan (Black Brothers) ini berpetualang memproduksi lagu sembari mengecap pendidikan pada Universitas Cenderawasih.

“Semejak bulan februari tahun 2018 saya mulai produksi lagu-lagu  soloku. Karena semenjak almarhum papa (David Rumagesan) meninggal baru terinspirasi ingat papa kalau lagi dipanggung sedang nyanyi, kata Sirga.

Genre musik? Ia mengaku senang produksi musik genre Hip Hop yang kini telah berjumlah delapan lagu. Sedangkan alat musik yang dikuasainya saat ini piano dan gitar. Lagu yang sudah saya ciptakan telah diunngah ke Youtube. Sebelum solo saya bergabung bersama Fask’g Crew, ujarnya.

Sebenarnya menurut Sirga tak sulit produksi lagunya. Namun ada hal  yang sulit saat mencari flow dari instrument yang dibuat. Dirinya mengaku gunakan aplikasi FL Studio buat instrument sementara sedangkan recording gunakan Adobe Audition cuma di mixing di FL Studio.

“Yang penting sih laptop aja sama mic buat home recording. Karena kalau dua itu sudah ada, buat awalan aja udah lebih dari cukup, ujarnya.

Gak ada sih negative pada zaman serba teknologi ini untuk membuat satu lagu. Selagi siapapun yang tidak mengusai lagu tapi sering mendengar lagu, pastinya dapat membuat not nada. Saya sangat bangga bisa membuat sebuah lagu. Sekarang banyak karya anak papua yang diekspos diluar papua dan sedang dilirik pecinta musik tanah air, katanya.

Satu harapan anak seniman ini, dapat menghibur semua pendengar maupun penonton dalam dan luar Papua. Terinspirasi dari Maha Karya Black Brother yang disukai seniman musik nasional dan internasional pada zamannya. Saya juga sangat senang apabila berkolaborasi dengan teman-teman musik solo bahkan band anak Papua. Pengen sekali membuat musik kolaborasi yang nantinya menjadi hits, tutupnya.

Ini hanya segelintir pendapat dari beberapa pelaku musik anak Papua dan semua kembali ke diri pelaku musik  di Papua, apakah mau gampang atau susah namun mendapatkan ilmu bermain alat musik? Semoga musik daerah versi genre lainnya dapat mengangkat Papua ke kanca nasional bahkan internasional. TAMAT

(IND)

Tags: Demam Produksi MusikGENRE PAPUA
Bagikan1Tweet1KirimBagikan
Berita Sebelumnya

Demam Produksi Musik Apa Di Papua? (Bagian 1)

Berita Selanjutnya

Mahasiswa Tolikara di Kabupaten Manokwari Butuh Asrama

Berita Terkait

Kepiting Bakau Asal Timika Sukses Tembus Pasar Malaysia
Kabar Daerah

Kepiting Bakau Asal Timika Sukses Tembus Pasar Malaysia

Gubernur Papua Tengah Dorong Integrasi Emas demi Ketahanan Moneter 2045
Nasional

Gubernur Papua Tengah Dorong Integrasi Emas demi Ketahanan Moneter 2045

Pemprov Papua Pegunungan Kumpulkan 8 Kabupaten, Cari Solusi Tekan Harga Kebutuhan Pokok
Papua Pegunungan

Pemprov Papua Pegunungan Kumpulkan 8 Kabupaten, Cari Solusi Tekan Harga Kebutuhan Pokok

Pemkab Yalimo Latih 35 OAP Jadi Wirausaha Tangguh, Dorong Ekonomi Lokal Yang Mandiri
Kabar Daerah

Pemkab Yalimo Latih 35 OAP Jadi Wirausaha Tangguh, Dorong Ekonomi Lokal Yang Mandiri

Berita Lainnya

Apa komentar anda ?

Nokenlive - Berita Papua Terkini

Menyuarakan Pembangunan di Papua dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Redaksi Nokenlive.com
  • Advertise
  • Syarat dan Ketentuan
  • Contact
  • Ketentuan Penggunaan

© 2018 Nokenlive - Berita Terkini Seputar Papua

Selamat datang kembali

Masuk dengan akun anda

Lupa kata sandi?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email untuk mereset kata sandi

Masuk

Add New Playlist

error: Nokenlive!!
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi Nokenlive.com
  • Papua Terkini
  • Papua Pegunungan
  • Politik dan Pemerintahan
  • Ekonomi & Bisnis
  • PAPUA SELATAN
  • Kabar Daerah
  • Kabar Port Numbay
  • Hukum & Kriminal

© 2018 Nokenlive - Berita Terkini Seputar Papua