JAYAPURA, Nokenlive.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, secara resmi membuka Kongres Bahasa Daerah se-Indonesia Tahun 2026 di Sasana Krida, Kantor Gubernur Papua, Selasa (20/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bahasa daerah memiliki peran penting, bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa dan menjaga kekayaan budaya Indonesia.
Ia mengatakan, penyelenggaraan kongres ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945.
Menurut Abdul Mu’ti, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang masih digunakan oleh masyarakat di berbagai wilayah. Keberadaan bahasa-bahasa tersebut menjadi bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya bangsa yang perlu dijaga keberlangsungannya.
“Bahasa Indonesia itu utama, bahasa daerah wajib, dan bahasa asing harus dikuasai,” tegas Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, penguasaan bahasa daerah perlu terus diperkuat agar generasi muda tetap mengenal identitas budayanya sekaligus mampu menjaga komunikasi antargenerasi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen, menyampaikan bahwa berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Indonesia memiliki 729 bahasa daerah, dengan sekitar 428 bahasa berada di Papua.
Menurutnya, keberagaman bahasa tersebut merupakan kekayaan yang patut disyukuri sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk dilestarikan.
“Ini merupakan kekayaan dan anugerah Tuhan yang luar biasa bagi kita di Tanah Papua,” ujar Aryoko.
Atas nama Pemerintah Provinsi Papua, Aryoko menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Kongres Bahasa Daerah se-Indonesia di Papua. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya pelestarian serta pengembangan bahasa daerah.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga bahasa daerah agar tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda, sehingga kekayaan budaya Papua dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kongres ini, pelestarian bahasa daerah diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan keluarga, komunitas adat, lembaga pendidikan, dan seluruh masyarakat.
(Melviandres Pamanggori)





Apa komentar anda ?