JAYAPURA, nokenlive.com — Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, fenomena kabut asap yang terjadi di wilayah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura berasal dari sejumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Pulau Papua dan Papua Nugini (PNG).
Hasil analisis sebaran asap melalui situs web NASA serta pemetaan sebaran partikulat karhutla BMKG menunjukkan bahwa potensi sebaran asap dari wilayah Papua bagian barat, khususnya Kabupaten Fakfak, yang bergerak menuju Kota dan Kabupaten Jayapura cukup signifikan pada 10 Oktober 2026.
Selain itu, pada 11 Oktober 2026, terpantau adanya karhutla di wilayah Doyo Baru, Kabupaten Jayapura. Sementara itu, pengaruh karhutla dari wilayah Papua Selatan relatif kecil. Hingga saat ini, sebaran asap dari wilayah utara Papua Nugini terpantau memberikan dampak terbesar terhadap fenomena kabut asap yang terjadi di Kota dan Kabupaten Jayapura serta wilayah sekitarnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BMKG Wilayah V Jayapura melalui Windy, selaku prakirawan cuaca di Kantor BMKG Wilayah V Jayapura, pada Rabu (14/10).

“Skala kabut asap yang terjadi saat ini relatif kecil dan berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Pulau Papua dan Papua Nugini,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil pengamatan radiosonde pada 10 Oktober 2026, terdeteksi adanya lapisan inversi subsidensi pada ketinggian sekitar 6,0 hingga 6,6 kilometer. Lapisan udara hangat tersebut menghambat pergerakan udara ke atas sehingga kabut asap dan polutan cenderung terperangkap di dekat permukaan tanah.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil pemantauan cuaca pada hari ini di Stasiun Meteorologi Sentani dan Stasiun Maritim Dok II Jayapura, jarak pandang di wilayah tersebut tercatat sekitar 6 kilometer.
Sesuai dengan hasil pemetaan sebaran partikulat karhutla oleh BMKG dan NASA, sebaran kabut asap saat ini bergerak dari arah timur dan tenggara menuju barat laut, melintasi wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura.
“Berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG, sebaran asap melintasi perbatasan negara dari Papua Nugini ke wilayah Papua sehingga Kota dan Kabupaten Jayapura turut terdampak,” ujarnya.
Sebagai informasi, wilayah dengan tingkat kepercayaan tertinggi terhadap keberadaan titik panas dan yang perlu mendapat perhatian serius meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi di Provinsi Papua Selatan.
Sementara itu, titik panas yang terpantau di sejumlah wilayah di Papua meliputi lima titik di Kabupaten Keerom, masing-masing satu titik di Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Mamberamo Raya. Adapun di wilayah Jayapura, titik panas terpantau masih nihil.

Terkait prakiraan cuaca selama sepekan di wilayah Papua, BMKG menyebutkan bahwa pada 14–15 Oktober 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di Kabupaten Sarmi, Mamberamo Raya, dan Waropen.
Selanjutnya, pada 16–18 Oktober 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir berpotensi terjadi di Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Mamberamo Raya, serta Kepulauan Yapen.
BMKG Wilayah V Jayapura mengimbau masyarakat dan seluruh pihak terkait agar tetap waspada serta memperhatikan informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan dengan menggunakan masker, serta membawa perlengkapan pelindung hujan, seperti jas hujan atau mantel, saat bepergian.
(Melviandres P. – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?