NABIRE, nokenlive.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Tengah semakin mengkhawatirkan. Di tengah puncak musim kemarau yang ditandai minimnya curah hujan dan kondisi lahan yang semakin kering, jumlah titik panas atau hotspot di wilayah tersebut melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat sekitar 224 titik panas yang terdeteksi di seluruh wilayah Papua Tengah pada periode 10–19 Agustus 2026. Jumlah itu kemudian meningkat tajam menjadi sekitar 779 titik panas hingga 22 Agustus 2026.
Lonjakan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Nabire, Husein Kamadi, seusai mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Bandara Lama Nabire, Minggu (23/8/2026).
“Peningkatannya cukup drastis. Karena itu perlu ada penanganan khusus dari BPBD bersama seluruh pihak terkait,” ujar Husein.
Menurut Husein, peningkatan jumlah titik panas tersebut harus menjadi perhatian serius karena terjadi ketika kondisi atmosfer dan lingkungan relatif kering. Di wilayah Nabire dan sekitarnya, curah hujan saat ini tergolong sangat rendah sehingga ketersediaan sumber air ikut terbatas.
Kondisi lahan yang kering membuat api jauh lebih mudah muncul dan menyebar ketika terdapat sumber pemicu. Karena itu, BMKG meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat langkah pencegahan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi karhutla.
Salah satu langkah sederhana yang ditekankan BMKG adalah menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan di lahan kering maupun kawasan yang mudah terbakar.
“Kami dari BMKG senantiasa mengimbau masyarakat agar tidak membuang puntung rokok di lahan atau tempat-tempat yang berpotensi memicu kebakaran. Kondisi saat ini sangat kering, sehingga apabila ada pemicu api, kebakaran sangat mudah terjadi,” jelas Husein.
Kondisi di Kabupaten Nabire bahkan menunjukkan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi. Hingga 22 Agustus 2026, BMKG mencatat sekitar 356 titik panas di wilayah Nabire.
Dari jumlah tersebut, 70 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 272 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang, sedangkan 14 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi.
Data tersebut menunjukkan perlunya respons cepat dan verifikasi lapangan terhadap titik-titik panas yang terdeteksi. Tingkat kepercayaan merupakan indikator dalam data pemantauan hotspot dan tidak serta-merta berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran aktif. Namun, peningkatan jumlah hotspot di tengah kondisi lahan yang kering tetap menjadi sinyal kuat agar kewaspadaan dan kesiapsiagaan ditingkatkan.
Selain ancaman kebakaran, peningkatan hotspot juga mulai berdampak terhadap kualitas udara di Nabire. Husein mengatakan, bertambahnya titik panas berpotensi diikuti peningkatan titik asap, terutama apabila kondisi tanpa hujan berlangsung dalam waktu cukup lama.
“Dengan bertambahnya titik panas ini, tentu akan menambah titik asap, khususnya di Kabupaten Nabire. Partikel-partikel tersebut selama tidak ada hujan akan terus bertahan di atmosfer,” katanya.
Partikel hasil pembakaran yang terakumulasi di atmosfer dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Karena itu, Husein meminta masyarakat tetap waspada terhadap kondisi udara dan menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan paparan asap. Di sisi lain, instansi terkait, khususnya Dinas Kesehatan, diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Dengan jumlah hotspot yang meningkat tajam, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu instansi. Koordinasi antara BPBD, BMKG, pemerintah daerah, aparat, tenaga kesehatan, serta masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
BMKG juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api atau kebakaran. Informasi yang cepat dapat membantu instansi terkait melakukan verifikasi dan mengambil tindakan sebelum api meluas.
“Masyarakat diharapkan terus waspada dan siap siaga apabila menemukan titik api serta segera berkoordinasi dengan BPBD atau pihak terkait,” pungkas Husein.
Lonjakan dari sekitar 224 hotspot menjadi 779 hotspot dalam rentang pemantauan Agustus 2026 menjadi peringatan serius bagi Papua Tengah. Dengan kondisi cuaca yang masih kering, keterbatasan sumber air, potensi asap, serta ancaman gangguan kesehatan, penguatan pencegahan dan respons cepat menjadi semakin mendesak agar ancaman karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (Lisa – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?