NABIRE, nokenlive.com — Fenomena embun beku yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Puncak hingga kini belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Kondisi cuaca yang cukup ekstrem di wilayah pegunungan tersebut berpotensi terus berlangsung seiring kondisi kemarau yang diperkirakan masih bertahan hingga sekitar Oktober.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Nabire, Husein Kamadi saat diwawancarai pada Minggu, (23/08/2026), mengatakan fenomena embun beku di Puncak berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Suhu udara di wilayah dataran tinggi dapat turun cukup signifikan pada malam hingga dini hari, terutama ketika kondisi langit cerah tanpa tutupan awan.
Menurut Husain, secara teori embun beku dapat terbentuk ketika siang hari berlangsung cukup panas, kemudian pada malam hari kondisi cuaca menjadi cerah. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap energi matahari, sedangkan pada malam hari energi tersebut dilepaskan kembali.
Dalam kondisi langit cerah dan berada di wilayah dataran tinggi, proses pelepasan energi tersebut dapat membuat suhu permukaan turun secara signifikan hingga memicu terbentuknya embun beku.
“Embun beku ini akan terjadi ketika siang hari cukup panas, kemudian pada malam hari cuacanya clear. Kondisi seperti ini sering terjadi di daerah pegunungan,” jelasnya.
Husain mengatakan, jika dibandingkan dengan kondisi historis, cuaca yang terjadi di wilayah Puncak saat ini menunjukkan kondisi yang berada di atas normal. Hal tersebut juga berkaitan dengan kondisi El Nino yang saat ini dinilai lebih kuat dibandingkan kejadian serupa pada 2023.
Ia menjelaskan, El Nino pada 2023 berada dalam kategori yang lebih moderat, sementara kondisi saat ini secara teori berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap pola cuaca, termasuk meningkatnya kekeringan di sejumlah wilayah.
“Kalau melihat historis, dibandingkan dengan kondisi El Nino 2023, sekarang kondisinya jauh lebih ekstrem. Jadi secara teori, dampaknya juga lebih banyak,” katanya.
Kondisi cuaca tersebut turut memberikan dampak terhadap sektor pertanian masyarakat di Kabupaten Puncak. Embun beku yang terjadi pada malam hingga pagi hari berpotensi merusak tanaman, terutama tanaman yang berada di lahan terbuka dan tidak mampu bertahan terhadap suhu rendah.
“Dengan adanya embun beku, pertanian pasti terdampak. Ladang bisa mati semua karena terkena embun beku,” ujarnya.
BMKG memperkirakan kondisi kemarau di wilayah Puncak secara teori masih berpotensi berlangsung hingga sekitar Oktober. Namun, perkembangan fenomena embun beku tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika cuaca harian dan kondisi atmosfer di wilayah pegunungan tersebut.
Husain menegaskan, kondisi cuaca di Puncak saat ini dapat dikategorikan berada di atas kondisi normal jika dibandingkan dengan pola historisnya. BMKG terus mencermati perkembangan kondisi atmosfer untuk melihat potensi perubahan cuaca di wilayah tersebut.
Husain menambahkan, jumlah pegawai BMKG di wilayahnya masih dapat dikatakan cukup memadai, tetapi keterbatasan peralatan pengamatan cuaca di wilayah pegunungan menjadi salah satu persoalan yang terkadang harus dihadapi.
Menurutnya, fenomena embun beku merupakan salah satu dampak yang perlu diwaspadai masyarakat, khususnya karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas pertanian di wilayah dataran tinggi Puncak.
(Lisa Rumkorem – Redaksi DA)







Apa komentar anda ?