JAKARTA-nokenlive.com – Tim kolaborasi film dokumenter Pesta Babi akhirnya menyampaikan tanggapan resmi terkait dinamika yang melibatkan tokoh perempuan adat Malind, Mama Yasinta, yang belakangan menjadi sorotan publik setelah beredarnya sebuah video pada Sabtu malam, 23 Mei 2026.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Sabtu (30/5/2026), tim kolaborasi film menegaskan penghormatan terhadap Mama Yasinta sebagai sosok perempuan adat yang telah lama memperjuangkan hak-hak komunitasnya, jauh sebelum proses produksi film dokumenter tersebut berlangsung.
“Mama Yasinta adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini berlangsung,” demikian pernyataan tim kolaborasi Pesta Babi.
Tim kolaborasi menegaskan bahwa mereka menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini, sekaligus meminta masyarakat untuk tidak memberikan penghakiman maupun tekanan terhadap dirinya di tengah situasi yang masih berkembang.
“Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” tulis mereka.
Menurut tim kolaborasi, setelah video tersebut beredar pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, hingga langkah Mama Yasinta mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya pada Jumat (29/5/2026), komunikasi secara langsung dengan yang bersangkutan belum dapat dilakukan.
“Setelah videonya beredar pada Sabtu malam, 23 Mei lalu, hingga mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya pada Jumat, 29 Mei, Mama Yasinta belum dapat dihubungi atau ditemui langsung,” ujar tim kolaborasi dalam keterangannya.
Di tengah situasi tersebut, mereka menyatakan masih terus berupaya membuka ruang komunikasi dan melakukan koordinasi dengan keluarga Mama Yasinta guna memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai perubahan sikap yang terjadi.
“Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya,” lanjut pernyataan itu.
Lebih jauh, tim kolaborasi berharap perhatian publik terhadap persoalan ini tetap diarahkan pada isu yang lebih besar, yakni upaya penyelesaian berbagai persoalan di Tanah Papua yang menjadi konteks utama perjuangan bersama.
“Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua,” tulis mereka.
Film dokumenter Pesta Babi sendiri merupakan hasil kolaborasi sejumlah organisasi dan lembaga, yakni Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, serta Watchdoc.
Pernyataan ini menjadi respons resmi pertama dari tim kolaborasi di tengah berkembangnya perhatian publik terkait posisi dan sikap Mama Yasinta. Hingga kini, proses komunikasi disebut masih terus diupayakan sembari berbagai pihak menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai perkembangan persoalan tersebut.
(Tundemin Kogoya – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?