JAYAPURA,NOKENLIVE.com – Konsultasi Independen Pemberdayaan Rakyat (KIPRa) Papua memaparkan hasil kajian pemetaan kapasitas dan kebutuhan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Tanah Papua melalui acara diseminasi yang digelar di Hotel Horison, Kotaraja, Kota Jayapura, pada Jumat (23/2/2026). Acara yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari 30 peserta secara langsung dan 30 peserta lainnya mengikuti secara daring.
Diseminasi tersebut merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas LSM/OMS melalui platform pembelajaran “Torang Belajar” yang dikembangkan KIPRa Papua dengan dukungan dari Packard Foundation. Kehadiran peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari organisasi masyarakat sipil, perwakilan pemerintah, masyarakat adat, hingga kalangan akademisi dan perguruan tinggi, diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam pemberdayaan masyarakat di Papua.
Direktur KIPRa Papua, Irianto Jacobus, menjelaskan bahwa kajian pemetaan ini bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi kapasitas kelembagaan OMS dan kebutuhan mereka dalam menjalankan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat.
“Hari ini kami mempresentasikan hasil kajian pemetaan kapasitas dan kebutuhan OMS sebagai bentuk tanggung jawab atas proses riset yang telah kami lakukan bersama kawan-kawan organisasi masyarakat sipil di Tanah Papua,” ujar Irianto saat membuka acara.

Proses riset yang dilakukan selama tiga hingga lima bulan itu menggunakan berbagai metode, termasuk wawancara mendalam, survei daring, dan forum diskusi kelompok terarah (FGD). Kajian ini dilaksanakan di enam wilayah yang menjadi titik pemetaan, yakni Manokwari, Sorong, Timika, Merauke, Jayapura, dan Wamena. Rangkaian riset ini ditutup di Wamena pada Desember 2025 lalu.
“Setiap wilayah memiliki konteks dan tantangan yang berbeda, oleh karena itu kami melakukan pemetaan di beberapa daerah agar mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi dan kebutuhan OMS di Tanah Papua,” jelas Irianto.
Hasil kajian menunjukkan terdapat lebih dari 200 organisasi masyarakat sipil yang aktif di enam wilayah kajian. Data ini diperoleh melalui survei daring dan FGD yang melibatkan puluhan OMS di Tanah Papua.
Irianto menambahkan, hasil kajian ini akan menjadi dasar dalam pengembangan Program Torang Belajar yang akan berjalan selama dua tahun ke depan. Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas OMS melalui berbagai bentuk pembelajaran.
“Ke depan, penguatan kapasitas OMS akan kami lakukan melalui webinar, pelatihan tatap muka, serta pembelajaran berbasis digital. Kami juga menyiapkan ruang podcast dan pusat pembelajaran online di Kantor KIPRa Papua, Kotaraja,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas ini, KIPRa Papua tengah mengembangkan platform Torang Belajar berbasis website yang dapat diakses lebih luas oleh organisasi masyarakat sipil di seluruh Tanah Papua. Platform ini dirancang sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, serta praktik-praktik baik antar OMS dalam menjalankan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat.
“Torang Belajar kami kembangkan sebagai ruang belajar bersama bagi OMS di Tanah Papua. Melalui website ini, organisasi dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik yang selama ini dilakukan di lapangan,” lanjut Irianto.
Melalui diseminasi ini, KIPRa Papua berharap dapat mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara organisasi masyarakat sipil, pemerintah, masyarakat adat, dan perguruan tinggi dalam memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat di Papua secara berkelanjutan.
“Kami menyadari bahwa penguatan OMS tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, kami mengajak pemerintah, masyarakat adat, perguruan tinggi, dan semua pihak untuk berkolaborasi agar upaya pemberdayaan masyarakat di Papua dapat berjalan secara berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tutup Irianto.
(Hubertus Gobai – Redaksi DA)







Apa komentar anda ?