JAYAPURA,NOKENLIVE.com– Festival Colo Sagu 2025 yang digelar di Pantai Wisata Hamansuw dibawah Jembatan Merah Youtefa, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, resmi ditutup pada Sabtu (28/6/2025).
Festival yang berlangsung selama tiga hari ini mengangkat tema “Potensi Pangan Lokal Menuju Kemandirian”, sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-79.
Festival ini diinisiasi oleh Yayasan Colo Sagu Nusantara bekerja sama dengan Kepolisian Resort Kota (Polresta) Jayapura Kota.
Kegiatan tersebut menyoroti pentingnya sagu sebagai pangan lokal yang tak hanya kaya gizi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat Papua, khususnya di kampung-kampung.
“Festival ini membawa semangat Colo Sagu sebagai gerakan kolektif, guna mendorong ketahanan pangan, pelestarian budaya dan keberlanjutan hidup masyarakat kampung,” ujar Ketua Yayasan Colo Sagu Nusantara, Michael John Yarisetouw kepada wartawan.
Menurut Michael, tiga nilai utama yang dipegang oleh Yayasan Colo Sagu Nusantara adalah ketahanan pangan, pelestarian budaya yang keberlanjutan.
Festival Colo Sagu menjadi ruang untuk merealisasikan ketiga hal tersebut secara nyata melalui pemberdayaan ekonomi kampung.
“Kami ingin mama-mama Papua kembali berdaya dengan kekuatan alam yang mereka miliki. Pangan lokal seperti sagu harus jadi tuan di rumah sendiri,” katanya.

Tahun ini, kegiatan difokuskan pada sepuluh kampung di wilayah Kota Jayapura. Namun, partisipasi baru datang dari beberapa kampung saja, seperti Tobati dan Skouw Mabo. Meski begitu, Michael menilai langkah ini sudah menjadi awal baik untuk mendorong lebih banyak kampung ikut berdaya di masa mendatang.
“Festival ini berbeda dari yang lain. Kami tidak memfokuskan pada seluruh UMKM, tetapi lebih spesifik pada pelaku pangan lokal yang berbasis kampung,” jelasnya.
Sebagai Fasilitator
Kata Michael, Yayasan Colo Sagu tidak mengambil peran sebagai produsen, melainkan sebagai fasilitator bagi masyarakat agar mereka sendiri yang mengelola dan memasarkan produk pangan lokal mereka.
“Contohnya, sagu pisang dari Kampung Gendate yang sempat viral pada Festival Colo Sagu 2023. Kami ingin kekayaan itu tetap menjadi milik masyarakat kampung, bukan yayasan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari advokasi, pihaknya berharap sagu bisa dimanfaatkan secara luas dalam kegiatan-kegiatan pemerintah sebagai pengganti makanan ringan berbahan impor.
“Kami ingin dalam setiap kegiatan pemerintahan, Colo Sagu bisa dihadirkan. Dengan begitu, hasil kebun mama-mama bisa habis terjual, dan ekonomi kampung ikut tumbuh,” tutupnya.
Festival Colo Sagu 2025 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali bahwa sagu bukan sekadar bahan makanan, melainkan simbol jati diri dan pilar kemandirian masyarakat Papua. (Hubertus Gobai/Fredik).





Apa komentar anda ?