Jayapura, Nokenlive.com- Di tengah riuhnya reaksi publik terhadap potongan video pernyataan Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, yang viral di media sosial, sang Wali Kota akhirnya angkat bicara. Lewat pertemuan bersama tokoh intelektual Papua Pegunungan, Hery Asso, Rabu malam (18/6), Abisai Rollo menegaskan: “Saya tidak pernah punya niat mengusir orang gunung dari Kota Jayapura.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi upaya meluruskan kesalahpahaman yang sempat memicu keresahan di tengah masyarakat Papua. Klarifikasi ini penting, bukan sekadar untuk menjaga nama baik, tetapi demi merawat persaudaraan yang telah lama dibangun antara masyarakat pesisir dan masyarakat pegunungan di Ibu Kota Provinsi Papua.
“Saya Ondoafi. Tidak ada dalam budaya kami untuk mengusir siapa pun. Mereka yang dari gunung adalah saudara-saudara saya. Saya beri mereka tanah, tempat tinggal, bahkan lahan gereja di Koya. Jadi tidak masuk akal kalau saya ingin usir mereka,” tegas Rollo.
Ia menjelaskan bahwa potongan video yang tersebar hanyalah bagian dari pernyataan panjang saat merespons keresahan masyarakat adat atas aksi-aksi demonstrasi yang dinilai anarkis. Sayangnya, kata “orang gunung” menjadi pemicu salah tafsir publik.
“Itu bukan ditujukan kepada semua masyarakat pegunungan. Tapi kepada oknum yang suka bikin demo rusuh. Itu aspirasi yang saya terima saat Turkam dari masyarakat adat di kampung-kampung,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Hery Asso, mewakili suara masyarakat Papua Pegunungan, menyampaikan bahwa ia dan rekan-rekannya sempat kecewa dan kaget.
“Selama ini kami melihat bapak Abisai sebagai orang tua. Dia beri tanah, beri perhatian. Tapi potongan video itu mengejutkan kami,” ujar Hery.
Ia menegaskan, pertemuan ini adalah langkah awal untuk membangun pemahaman bersama dan berharap akan ada pertemuan lebih luas antara Wali Kota dengan para tokoh Papua Pegunungan baik tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga gereja demi meredam ketegangan dan membangun kembali kepercayaan publik.

Seruan Damai dan Dialog Terbuka
Abisai Rollo dalam pernyataan lanjutannya mengajak semua pihak di Kota Jayapura untuk menciptakan iklim damai, tanpa kekerasan, tanpa palang jalan, dan tanpa aksi anarkis. Pemerintah, katanya, selalu terbuka untuk dialog.
“Kalau ada aspirasi, silakan datang ke saya. Saya pasti terima. Kita selesaikan dengan musyawarah. Jayapura harus aman, karena kota ini milik kita bersama,” ungkapnya.
Pernyataan Wali Kota ini menjadi penting di tengah situasi Papua yang mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif. Kedewasaan dan ketenangan dalam menyikapi pernyataan publik, serta semangat dialog, menjadi kunci menjaga keharmonisan antar suku dan kelompok.
Harapan dari Tanah Damai
Pernyataan bersama dua tokoh ini dari pesisir dan pegunungan adalah simbol bahwa perbedaan bukan pemisah, tapi kekuatan. Papua adalah rumah besar untuk semua anak bangsa. Kota Jayapura adalah simpul perjumpaan dan persaudaraan. Sudah saatnya kita lebih sering duduk bersama daripada saling mencurigai.
“Kami tidak akan palang, kami tidak akan demo. Tapi kami ingin didengar,” kata Hery menutup pertemuan dengan pesan damai. ( Redaksi NL )





Apa komentar anda ?