Kota Jayapura-Nokenlive.com Di tengah dinamika kepemimpinan yang sering kali terasa berjarak, rumah Benhur Tomi Mano calon Gubernur Papua hadir dengan konsep berbeda, terbuka untuk semua. Bukan sekadar pilihan estetika, tetapi sebagai wujud nyata kebersamaan yang tumbuh secara alami.
Setiap rakyat yang datang mendapat sambutan hangat, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar. Kehormatan dan kebahagiaan menyatu dalam atmosfer kekeluargaan yang hangat dan tanpa sekat.
Tak jarang, pemimpin tanpa sadar menciptakan batas dengan aturan yang kaku, hierarki yang ketat, dan prosedur yang justru menghambat komunikasi serta kolaborasi. Ayi BTM sapaan akrab warga Kota Jayapura sangat memahami bahwa keberhasilan tidak selalu bergantung pada hal besar, melainkan juga pada hal-hal sederhana. kehangatan, keterbukaan, dan kedekatan dengan rakyat.
Rumah BTM tak hanya terbuka bagi masyarakat asli Papua, tetapi juga untuk hampir seluruh masyarakat Nusantara. Ini terlihat dari berbagai kegiatan diadakan di kediamannya, mulai dari acara keagamaan hingga ruang diskusi dengan berbagai Tokoh penting di Papua, termasuk para Perempuan dan Pemuda milenial. BTM bersama istri menyambut dan menjamu mereka dengan penuh kehangatan, menciptakan suasana yang akrab dan nyaman.

Mungkin bagi sebagian orang, ini terkesan berlebihan dan sarat kepentingan namun tidak bagi seorang Gifli Buinei salah satu Tokoh Muda Papua yang justru melihat hal ini sebagai sesuatu yang baik dan harus terus di lakukan oleh Para Pemimpin di Papua. Kesederhanaan dan kerendahaan hati dari seorang BTM Menurutnya patut diteladani.
” Rumah BTM itu terbuka 24 jam untuk rakyat, dan saya melihat ini bukan sekedar strategi karena beliau maju menjadi calon gubernur, tapi ini memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak lama bagimana kedekatan beliau dengan masyarakat. Jadi kondisi hari ini yang kita lihat di kediamannya banyak orang yang datang, terus bergantian ini bukan baru tapi beliau dari dulunya yah memang sudah seperti ini sikapnya dekat dengan masyarakat.
Lanjutnya, memang banyak pemimpin di Papua menyadari bahwa untuk bisa mengakomodir, mendengar, dan menerima aspirasi masyarakat, seorang pemimpin harus mendekatkan diri dan menjadi bagian dari mereka kerena sejatinya masyarakat bukan sekadar objek kebijakan, tetapi adalah bagian dari pemimpin itu sendiri, dan BTM memahami itu dengan baik.

” Kita punya masyarakat Papua ini memiliki nilai kekeluargaan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus benar-benar mampu menjadi bagian dari masyarakatnya. Di kehidupan sehari-hari misalnya, rakyat ingin bertemu pemimpinnya itu bukan di hotel atau tempat-tempat elit, tetapi di rumah, di lingkungan yang terasa akrab dan nyaman. Di tempat-tempat eksklusif justru masyarakat Papua yang tinggal di kampung-kampung akan merasa canggung untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sebaliknya, dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, mereka bisa berbicara dengan leluasa. Apalagi menjadi kepala daerah itu adalah posisi yang cukup tinggi di mata masyarakat. Bertemu dengan pejabat sering kali menjadi hal yang sulit karena adanya birokrasi dan berbagai sekat. Namun, BTM memahami kebutuhan rakyatnya. Ia membuka rumahnya 24 jam agar masyarakat bisa dengan mudah bertemu dengannya tanpa hambatan. Mereka bisa datang langsung, berbincang santai, makan pinang, minum kopi, dan berdiskusi dalam suasana kekeluargaan” Jelasnya.
Iapun berharap jika Tuhan berkehendak dan BTM dipercaya menjadi pemimpin Papua sebagai gubernur, kebiasaan yang baik ini harus tetap dipertahankan. Jangan pernah berubah karena keadaan atau jabatan. Karena sejatinya, posisi dan jabatan adalah milik rakyat. Ia yakin bahwa BTM memahami karakter dirinya sendiri, sehingga tidak perlu ada jarak atau sekat antara dirinya dan masyarakat” Harapnya.

Rumah BTM menjadi simbol harapan baru akan kepemimpinan yang merakyat dan inklusif. BTM tidak hanya hadir sebagai calon Gubernur Papua, tetapi juga sebagai figur yang mampu menjembatani aspirasi rakyat dengan hati dan ketulusan. Keterbukaan rumahnya mencerminkan keterbukaan hatinya, sebuah nilai yang langka namun sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan hari ini. Keteladanan ini menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati bukan hanya mereka yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi yang hadir, mendengar, dan hidup di tengah rakyatnya. ( Redaksi )





Apa komentar anda ?