
SENTANI, Nokenlive.com
Linda Tokoro, sosok perempuan asal Sentani ini terlihat sangat sederhana, kesehariannya adalah menjalankan berbagai usaha yang telah dirintisnya sejak lama, selain mengelola kawasan wisata Hutan Sagu Huruwakha, dirinya juga membuka Kantin yang berdekatan dengan Sekolah Kalam Kudus yang terletak di Sentani, Kabupaten Jayapura. Namun aktifitasnya bertambah semenjak dipercaya menjabat sebagai Ketua Koperwan Papua, tidak sekedar duduk menunggu bantuan pemerintah, dirinya menggagas kelompok perajin Sagu bersama mama-mama asli Papua di 15 Kampung dengan mengolah Sagu menjadi aneka kue kering dan basah serta es krim.
“Awalnya karena dipercaya bapak John Kabey sebagai Ketua Koperwan, lalu saya pikir bagaimana supaya mama-mama di Kampung bisa kita ajak mereka, kebetulan dari BPTP Kabupaten Jayapura mau tolong untuk bisa saya ajak ke Kampung latih dorang”, ujarnya saat berbincang bersama wartawan Nokenlive beberapa waktu lalu.


Dirinya menuturkan bahwa saat ini aktif melakukan pelatihan aneka kue sagu dan es krim di 15 Kampung, diantaranya Kelompok Kampung Yobeh, Komba, Yahim, Yoboi, Kelompo Abeale, lalu Netar, Kampung Harapan dan Puay. Sementara di Wilayah Nimbokrang sudah ada 3 kelompok, dan satu di wilayah Sabron Yaru.
“Untuk pelatihan sudah dibantu peralatan dari Succofindo, saat itu dibantu melalui Wakil Menteri Perdagangan, sebelumnya pernah juga buat festival Huruwakha, saya coba ajak mama-mama produksi kue sagu dengan uji coba pasar dan puji Tuhan semua kue laku terjual, apalagi pas Natal tahun 2021, karena banyak yang bagikan postingan kue sagu di Media Sosial kita buat pesanan sampai 500 toples, karena ada yang mau bawa untuk oleh-oleh ke Bali dan Jakarta”, paparnya panjang lebar.

Saat ini Linda mengaku masih melayani pesanan kue Sagu dan Es Krim dengan melibatkan kelompok mama-mama di Kampung, namun dirinya terkendala modal dan rumah produksi. “Masih terbatas untuk Terima pesanan, karena begini mama-mama ini tidak punya modal, kalau kita sertakan mereka, harus kita kasih modal dulu, dan peralatan juga yang ada masih sederhana, kita belum ada rumah produksi, sementara masih pakai rumah saya pribadi, tapi jarak mama-mama ini kan cukup jauh, sementara kalau mereka buat dirumah sendiri, tidak punya alat, harus ada ongkos taksi datang lagi, kalau pas ada dana biasa saya kasih mereka dulu, tapi kemampuan saya juga terbatas untuk bisa tangani semuanya”, ungkapnya.
Saat ditanya mengenai harapannya kedepan, Linda berharap dapat menjadikan apa yang dirintisnya sebagai usaha bersama dengan mama-mama di Kampung, dia berkeinginan membuka rumah produksi dan pusat oleh-oleh yang dihasilkan dari tangan-tangan terampil mama Papua. “Saya yakin Tuhan akan menolong kami dengan rumah produksi dan modal yang layak agar bisa maju, tidak boleh putus harapan, sekarang apa yang bisa dikerjakan, saya kerjakan, meskipun sederhana tetap harus berjuang, berdoa dan berusaha terus agar suatu saat saat semua pintu itu terbuka, kemampuan kita juga tidak lagi sekedarnya tetapi layak untuk membawa produk ini go nasional maupun internasional”, pungkasnya optimis. (Red)




Apa komentar anda ?