Serui, Nokenlive.com – Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tiga setengah abat di jajah oleh jepang dan tiga setengah tahun dijajah oleh belanda dan merupakan perjuangan perjuangan panjang untuk bagaimana dapat mengusir para penjajah tersebut.
Menyikapi gejolak yang terjadi di papua saat ini dimana berkembang berbagai macam isu, salah satu tokoh perjuangan yang ada di yapen mengungkapkan perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah belanda dari atas tanah papua.
Kristian Payawa saat di temui di kediamannya ungkapkan meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan dari sabang sampai merauke pada Tanggal 17 Agustus 1945, namun Belanda tetap keras kepala untuk tidak mau angkat kaki dari bumi Papua. “setelah Kemerdekaan Indonesia, Belanda tetap saja belum mau hengkang dari Papua”.ujar Ketua Barisan Merah Putih wilayah kabupaten yapen ini.jumat (19
3/9).
Ia katakan, beberapa cara telah di lakukan dan salah satunya adalah meIaIui Konferensi Mejah Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag belanda pada tanggal 22 Desember 1949 dengan menghasilkan perjanjian. “ya ada hasil perjanjian dari konferensi mejah bundar yaitu disepakati bahwa seluruh bekas jajahan Belanda adalah wilayah Republik Indonesia, kecuaIi Papua Barat akan di kembalikan belanda ke pangkuan Ibu NKRI dua tahun kemudian dengan pengakuan dan penyerahan kekuasaan atas wilayah jajahan belanda kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 secara simbolis”.
Setelah itu dalam upacara pertama setelah melakukan penyerahan kekuasaan berlangsung di Amsterdam trpatnya di istana Po de Dam ini dihadiri oleh wakil Presiden Mohamad Hatta sekaligus Perdana Menteri Hatta selaku pemimpin Delegasi Indonesia, serta dari pihak Belanda tampak hadir Ratu Yuliana dan para kabinet Belanda, selanjutnya upacara ke dua berIangsung di Istana Negara Jakarta, di hadiri oIeh wakil tinggi Mahkota Belanda Indonesia Tony Lovinlk dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai wakil perdana menteri Indonesia.
Bukan hanya itu saja perjanjian lain Trikora (Tri Komando Rakyat) dengan Isi kesepakatan KMB dalam kenyataannya di ingkari oleh Belanda sendiri. “BeIanda tidak hanya sekedar bertahan di Papua, tetapi Iebih dari itu mereka mempersiapkan Iangkah untuk memisahkan tanah Papua dari NKRI. Belanda membentuk Dewan Nasional Papua yang kemudian secara tergesa-gesa mendeklarasikan kemerdekaan Papua tanggal 1 Desember 1961”.
Lanjut perjanjian lain New York Agrement
meIaIui upaya diplomasi yang alot yang difasilitasi PBB, Belanda akhirnya mau menandatangani New York Aggrement (NYA) bersama Indonesia peda tanggal 15 Agustus 1962 dan Indonesie di wakili oleh Subandrio serta Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A Scurman dengam isi kesepakatan membuat road map penyelesaian sengkate atas wilayah Papua/Irian Barat pada akhirnya tanggal 20 September 1962, dilakukan pertukaran instrument ratifikasi NYA antara Indonesia dengan Belanda tetapi pertukaran tersebut tidak menjadikannya otomatis berlaku, karena PBB terlibat.
Untuk perjanjian terakhir adalah pada Referendum (PEPERA 1969) tanggal 1 Mei 1963 UNTEA menyerahkan kekuasaan atas Papua kepada pemerintah Indonesia. “Holandia yang tadinya menjadi pusat kekuasan kerajaan Belanda di Papua dirubah namanya menjadi Kota Baru, pada akhirnya 1 Mei hingga kini diperingati sebagai hari Integrasi Papua kedalam NKRI”.
Lain pada itu papua sendiri mempunyai permasalahan yang terus bergejolak yaitu perdebatan tentang Sah Tidaknya pelaksanaan Referendum Papua melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA ) pada akhirnya tahun 1969 banyak generasi muda Papua yang belum sepenuhnya memahami mengapa harus di gelar PEPERA.
Dengan apa yang terjadi Kristian jelaskan
Tiga hari kemudian tepatnya tanggal 4 Mei 1963 Bung Karno menjejakan kakinya di tanah Papua lalu dihadapan ribuan orang Papua di kota baru namun Bung Karno dengan semangat membara menyampaikan pidato dengan isi pidato
“Irian Barat sejak tanggal 17 Agustus 1945 sudah masuk dalam wilayah Republik Indonesia, orang kadang berkata memasukan Irian Barat kedalam wilayah ibu Pertiwi salah atau tidak, irian barat sejak dari pada dahulu sudah masuk kedalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia.
Bahkan pada tanggal 5 September 1963 Papua bagian Barat dinyatakan sebagai daerah “Karantina” sesuai yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia dengan membubarkan Dewan Nasional Papua. Keputusan ini ditentang oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Sejak UNTEA dibentuk ia ( Bung Karno ) langsung mempersiapkan Referendum dalam waktu proses persiapan Referendum 7 tahun. Hasil referendum sendiri pada tahun 1969 dengan hasil Papua akhimya kembali ke pangkuan NKRI maka jadilah Papua menjadi Provinsi ke 26 Indonesia dengan nama Irian Jaya namun keputusan ini lagi-lagi ditentang OPM dan sejumlah pengamat indenpenden yang di provokasi Belanda.
Negara-negara barat yang dimotori Amerika Serikat mendukung hasil PEPERA itu karena tidak ingin Indonesia bergabung dengan pihak Komunis Uni Soviet.
Hasil PEPERA tidak sampai di situ harus diuji dalam Sidang Majelis Umum PBB dalam sejarah pada akhirnya mengesahkan hasil PEPERA dengan sebuah Resolusi Majelis Umum PBB Nomor. 2504 tanggal 9 Oktober 1969.
Di akhir perbincangan sejarah Papua masuk Indonesia Payawa lontarkan bahwa kemudian PEPERA diragukan keabsahannya, “itu adalah bahasa kekecewaan kelompok aktivis Papua yang lahir jauh setelah PEPERA disahkan, mereka terus berupaya agar di tanah Papua dilakukan Referendum ulang padahal mereka tahu bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan”.tegasnya.
Selaku pelaku sejarah Kristian Payawa berharap juga meminta kepada para generasi Papua yang sadar sejarah agar dapat fokus membangun Papua untuk semakin maju dan sejahtera.”apapun yang terjadi, Papua adalah bagian yang tidak akan terpisahkan dengan Indonesia.
salam kebangsaan, sekali Merah Putih, Tetap Merah Putih”.hormatnya.
(Eman)





Apa komentar anda ?