NABIRE, nokenlive.com – Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengubah strategi peningkatan daya saing sumber daya manusia dengan memusatkan pembinaan siswa di dalam daerah, menggantikan pola lama yang mengirim peserta didik ke lembaga pendidikan di Jawa dan Bali.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nuraidah Nawipa, di Nabire, Kamis (23/7), mengatakan perubahan kebijakan tersebut merupakan bagian dari transformasi pendidikan yang mulai diterapkan sejak 2025 untuk memperkuat kualitas generasi muda Papua Tengah.
“Jika selama ini penyiapan daya saing dilakukan dengan mengirim siswa ke lembaga kemitraan di Jawa dan Bali, mulai tahun 2025 kebijakan itu kami ubah dengan menyiapkan anak-anak Papua Tengah langsung di daerahnya sendiri,” kata Nuraidah saat peringatan Hari Anak Nasional 2026 di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire.
Menurut dia, pendekatan baru tersebut bertujuan membangun sistem pendidikan yang lebih mandiri sekaligus memperkuat kapasitas lembaga pendidikan di Papua Tengah agar mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing global.
“Pengelolaan dan penyiapan daya saing pendidikan harus tumbuh dari Papua Tengah. Kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang kuat sehingga anak-anak kita tidak lagi bergantung pada pembinaan di luar daerah,” ujarnya.
Dia menjelaskan, implementasi kebijakan tersebut diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya pelatihan bahasa Inggris sejak dini yang melibatkan lembaga kursus lokal dan menyasar ribuan peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
“Tujuan kami bukan sekadar meningkatkan kemampuan akademik, tetapi membentuk rasa percaya diri anak-anak Papua Tengah agar mampu bersaing memperoleh berbagai peluang pendidikan, termasuk beasiswa di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Dia menambahkan, transformasi kebijakan pendidikan juga diharapkan mampu memperkuat peran tenaga pendidik, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu membangun Papua Tengah dari daerahnya sendiri.
Nuraidah mengatakan, perubahan paradigma tersebut menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi Papua Tengah untuk meletakkan fondasi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada peningkatan kualitas anak-anak asli Papua.
(Agustina Estevani Janggo – Redaksi DA)







Apa komentar anda ?