JAYAPURA, Nokenlive.com – Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Silas Papare Jayapura menggelar kuliah tematik bertajuk manajemen konflik bagi mahasiswa, Sabtu (25/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di kampus STISIPOL tersebut menghadirkan Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, sebagai narasumber sekaligus dosen tamu.
Kuliah umum ini digelar sebagai respons atas meningkatnya eskalasi kekerasan di sejumlah wilayah Papua sepanjang awal tahun 2026. Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan STISIPOL Silas Papare Jayapura, Isak Wondiwoi, S.IP., M.PA, dalam pengantarnya menyoroti berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan ini.
Ia menyebutkan bahwa kasus-kasus seperti pembunuhan pilot dan kopilot di Bandara Korowai Batu, penyerangan Pos TNI di Kampung Sori, Maybrat yang menewaskan dua anggota TNI dan disertai perampasan senjata, hingga pembunuhan tenaga kesehatan di Tambrauw dan anggota Polres Dogiyai, menjadi gambaran nyata situasi yang memprihatinkan. Selain itu, penembakan terhadap warga sipil di Puncak Papua juga menambah daftar panjang kekerasan di wilayah tersebut.
“Kampus sebagai basis kajian ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab untuk melakukan kajian terhadap masalah sosial di masyarakat dan kecenderungannya, perlu dilakukan kuliah tematik manajemen konflik dengan menghadirkan pakar atau orang yang berpengalaman secara praktis dalam menangani konflik sosial yang berdimensi kekerasan di Tanah Papua untuk memberikan kuliah umum,” ungkap Isak.

Foto : Andika
Keterangan foto : Mahasiswa dan civitas akademika STISIPOL Silas Papare Jayapura berfoto bersama usai kuliah tematik manajemen konflik menghadirkan Frits Ramandey sebagai narasumber, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, kehadiran Frits Ramandey sebagai Kepala Komnas HAM Papua menjadi sangat relevan karena tidak hanya memiliki kepakaran secara teoritis, tetapi juga pengalaman langsung di lapangan dalam menangani berbagai konflik di Papua.
“Untuk itulah jurusan Ilmu Pemerintahan menghadirkan Kepala Komnas HAM Papua Frits Ramandey, yang memiliki kepakaran soal konflik tapi juga punya pengalaman di berbagai daerah di Papua sebagai dosen tamu, untuk memberikan kuliah agar mahasiswa perlu mendapat pengetahuan lebih tentang bagaimana manajemen konflik dan diharapkan mahasiswa bisa memberikan mitigasi kepada masyarakat,” tuturnya.
Melalui kuliah tematik ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep manajemen konflik secara akademik, tetapi juga mampu berperan aktif dalam memberikan solusi serta upaya mitigasi konflik di tengah masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran kampus sebagai pusat kajian ilmiah yang responsif terhadap dinamika sosial di Papua.
(Melvriandre Pamanggori/MR)





Apa komentar anda ?