Jayapura, Nokenlive.com – Puluhan warga asli Port Numbay (Kota Jayapura) mendatangi Kantor Wali Kota Jayapura untuk mempertanyakan nasib mereka, tekait penerimaan Calon Pegawai Negeri SIpil (CPNS) tahun 2018 yang di umumkan tahun 2020 ini.
Ketua Port Numbay Crisis Center (PACE), Yacobus Edward Hababuk disela-sela aksi damai sebelum digelarnya diskusi bersama Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano mengaku terbeban akan nasib anak-anak Port Numbay. Ia mengaku agar ada titik terang permasalahan ini, maka ‘Naduk’ (bahasa Port Numbay: Anak) bertanya ke ‘Ai’ (bahasa Port Numbay: Bapak) kenapa hampir 300-an anak asli Port Numbay, hanya 20-an yang diterima, sedangkan hampir 200-an lainnya tak lolos CPNS.
“Jadi mereka ini saya lihat memenuhi kriteria dengan ijasah sebagian besar juga sarjana. Kami mau pertanyakan, kira-kira ada penilaian-penilaian khusus ka, atau hal-hal apa yang kurang dan menyebabkan tidak lolos,” kata Edward, Senin (03/08/20).

Menurutnya, ada ketidakpuasan tersendiri dari anak-anak Port Numbay. Pihaknya menilai Sumber Daya Manusia (SDM) yang diterima tak jauh berbeda dengan anak-anak Port Numbay yang tak lolos, bahkan menurutnya rata-rata kualifikasinya sama.
“Yang lolos tak jauh berbeda, mulai dari kemampuan secara disiplin ilmu. Hampir semua ini lulusan dari Salatiga ya. Yang beliau (BTM) sendiri kirim mereka sekolah disana. Jadi mereka mempertanyakan, kira-kira kekurangan mereka dimana?” ujarnya.
Hal ini menyangkut dengan krisis antara masyarakat kepada pimpinannya di daerah, dikatakan Edward, pihaknya berharap ada formasi khusus dan menerima mereka menjadi pegawai. Dimana, hal yang hamper sama seperti ini pernah dilakukan mantan Walikota Jayapura M.R. Kambu di era beliau.
“Hal yang sama pernah dilakukan Bapak M.R Kambu menerima sekitar 100 sampai 200 pegawai waktu kami demo saat itu. Karena hal hampir sama seperti ini, mungkin bisa terjadi lebih bagus lagi, apalagi beliau (BTM) anak asli disini (Port Numbay),” diharapkan Edward.
Salah satu anak asli Port Numbay, Fransina Fanesya Hanasbey yang tak lolos CPNS mengatakan pihaknya menuntut hak mereka ingin menjadi pelaku bukan penonton diatas tanah kelahiran mereka. Selain itu, pihaknya mencari figur terbaik yang mengedepankan anak-anak di Port Numbay.
“Kami seperti tak berguna di negeri kami sendiri, padahal kami sekolah Bapak Wali Kota berikan kami biaya sekolah. Kami datang ke tempat ini, menuntut hak kami sebagai anak asli Port Numbay. Kami mau jadi bagian dalam pembangunan, bukan menjadi penonton,” kata Fransina.
Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano mengaku agak kecewa dengan formasi yang ia sodorkan ke pusat, namun yang muncul berbeda. Ia mengaku akan menyurati pusat terkait hal ini., menurutnya penerimaan pegawai ini telah ada formasi, seperti akutansi, apoteker, farmasi, teknik sipil, matematika, fisika dan lainnya saat diterima akan ada pembagian-pembagian pada instansi yang membutuhkan.
“Untuk itu, nanti tak ketemua saya diruangan lagi. Nanti nama-nama dari Nafri, Enggros, Tobati, Kayu Pulo, Kayu Batu disampaikan kepada saya, lalu kami usulkan dengan alasan-alasan yang masuk akal, mereka anak asli punya tanah, punya air, punya hutan, diatasnya dibangun pembangunan itu,” kata BTM saat menerima keluhan anak-anak Port Numbay siang tadi di Aula Siansoor, Kantor Wali Kota Jayapura.
(Indrayadi TH)





Apa komentar anda ?