Jayapura, Nokenlive.com – Siapa bilang kalau di Bumi Cenderawasih, tak memiliki penyair perempuan asli Papua. Inilah ulasan nokenlive tentang perempuan asli Papua asal Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen yang telah mengeluarkan tiga buku Puisi dan delapan buku hasil kolaborasi penyair-penyair tingkat Nasional bahkan Internasional.
Vonny Aronggear, perem (perempuan) Papua abdi Negara sebagai guru Geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Jayapura ini mampu menunjukkan talenta syair puisinya ke publik. Gebrakannya diawali dengan mendirikan EKSKUL siswa-siswi pecinta sastra di sekolah tersebut dan beberapa sekolah di Kota Jayapura sejak beberapa tahun terakhir.
Dirinya pun mulai di kenal tingkat Nasional dengan mengharumkan nama Papua dan mencatatkan namanya didalam buku-buku yang telah terbit sejak tahun 2016-2018. Buku hasil kolaborasi bersama penyair tingkat nasional diantaranya berjudul Punah, Gerhana, Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak, Aceh 5,03 6,4 SR, 66 Penyair Nusantara teras Puisi, Puisi Menolak Korupsi 6, Kata Tidak Sekedar Melawan, Sajak Di Leher Bukit dan buku Antologi 1000 pusi guru berjudul Guru yang telah terbit tahun 2018 lalu.
“Saya kan tra (tidak) punya uang banyak, cetak buku ini saja sa (saya) utang sana sini, saya bersyukur teman-teman yang ada dalam buku ini bergerak dengan hati nurani,” kata perempuan lulusan S1 Uncen Jayapura angkatan tahun 2004 silam kepada tim Nokenlive, Kamis (10/9/2018).
Perempuan ini awalnya suka membaca buku, majalah yang ada cerpen dan novel kemudian dari situlah timbul niat untuk menulis agar karyanya dibaca orang lain. “Kenapa saya hanya membaca karya orang? bagaimana kalau karya saya juga di baca orang lain. Buku pertama saya judulnya Pelupuk Mata yang didalamnya berisi kumpulan puisi ciptannya,” kata Vonny.
Menurutnya, kalau menulis karya yang lain mudah, tapi menulis karya sastra itu berbeda lantaran harus membawa pembaca terpikat dan jatuh hati pada apa yang ditulis bukan pekerjaan mudah. Di samping itu, lanjutnya untuk mencetak buku juga di Papua tak banyak percetakan.
“Kalaupun ada jatuhnya harga mahal. Selama ini saya mencetak buku secara indie artinya kalau 10 buku dalam 1 tahun secara finansial saya tidak mampu. Selain itu bukan masalah berapa banyak buku yang di hasilkan tapi mutu dari tulisan yang ingin saya pertahankan,” ujarnya.
Ia juga beberkan karya sastra itu seperti ruh spiritual, bicara dalam tulisan yang indah tentang keindahan dan bukna hanya keindahan ketimpangan dan ketidakadilan juga dibicarakan, melainkan di bungkus dengan bahasa yang indah, sehingga orang yang membaca dapat terbuai dan masuk dalam cerita tersebut.
“Kalau soal inspirasi menulis saya selalu dapatkan tiap hari dimana saja. 1 hari saya bisa menulis 3 sampai 4 puisi. Tapi persoalannya itu tadi menjadikan puisi-puisi itu menjadi 1 buku sangat mahal harganya bagi saya yang hanya pegawai negeri. Jadi kendala terbesar adalah mempublikasikan dalam bentuk buku membutuhkan biaya,” katanya.
Dirinya sempat ditanya pihak dinas tempatnya bekerja, tentang harapannya saat menulis. Namun, ia pertegas tak mempunyai harapan tinggi kepada dinas maupun pemerintah daerah, lantaran ingin Papua tak hanya dikenal dari sisi politik, olahraga melainkan dapat juga dapat dikenal melalui syair puisi-puisinya.
“Saya hanya ingin berkarya untuk Papua. Sa (saya) penyair dan harus terus berkarya, karena kalau saya tak mempunyai hasil karya, kapan lagi sa bisa bisa angkat nama Papua melalui karya sa ini. Kami ada, sastra dari Papua juga ada,” ujarnya.
Ia mengakui akan terus berkarya, lantaran bicara tentang sastra di Papua sangat jarang anak asli Papua menyukai bidang sastra dan sudah saatnya anak-anak di Bumi Cenderawasih bicara soal Papua melalui karya sastra. Selama ini, kata Vonny yang terjadi biasanya orang-orang datang dan menulis tentang Papua, bicara tentang keindahan alam, budaya.
“Saya yakin semua orang di dunia ini tahu bahwa Papua itu indah dan kaya. Tapi mereka tidak pernah berani menjadi fungsi kontrol. Papua selalu menjadi subyek tulisan. Bukan menjadi obyek atau pelaku, dalam menulis, kalau jadi pelaku berarti bisa kritis,” tegasnya.
Terbitnya Buku Ke-Tiga
Satu satunya penyair perempuan Papua yang berkeliling Indonesia dan membacakan puisi- puisinya sambil mengkampayekan betapa pentingnya keberadaan tanah Papua bagi Nusantara ini telah menerbitkan buku berjudul Pandangan Cinta, Pelupuk Mata dan buku berudul Di Timur Air Mata yang akan di Launching, Selasa 15 Januari pekan depan di Hirosi Sentani, Kabupaten Jayapura bertepatan dengan Ulang Tahun Hirosi.
“Kalau buku yang saya tulis sendiri hanya ada tiga buku, kalau ditambah hasil kolaborasi dengan penyair lainnya dari luar Papua jumlah semuanya ada lima belas buku itu sudah termasuk buku yang belum keluar di tahun lalu dan akan keluar di tahun ini ada 3 buku,” kata Perempuan berparas manis murah senyum ini.
Buku ini juga sudah dibedah di Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat yang didampingi Sastrawan Papua, Igir Al’Qatiri. Hasilnya buku tersebut telah masuk daftar pustakanya Unipa. Buku terbitan dari Pilamo Aksara, Hiroshi, Patgom dan Huwili Papua,” kata Vonny.
Kata pengantar dalam buku diisi Suharyanto selaku Kepala Balai Bahasa Papua, Irianto Yedijah Awom selaku Dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Unipa Manokwari, Marshall Suebu pendiri Komunitas Hirosi juga aktifis lingkungan serta orang Papua pertama penerima Kalpataru 2006, Septinus George Saa juara 1 (satu) Firsts Step to Nobel Prize in Physics 2004 in Warsawa, Polandia from Papua, dan Igir Al’Qatiri.
Akademisi dan Budayawan Gayo-Aceh, Salman Yoga S mengakui Vonny Aronggear berhasil menangkap dan merekamnya menjadi pesan moral sekaligus pemberontakan yang cukup santun, meski banyak penulis lainnya dalam menyuarakan ketimpangan seperti ini justru menggunakan pilihan kata yang “keras”.
“Dari hitungan jari jumlah sastrawan Papua yang berani menyuarakan deru nafas rakyat dan gemuruh hutan serta lautnya, hanya sebagian yang mempunyai kepekaan terhadap ketimpangan dan penyimpangan yang melukai rasa keadilan,” kata Salman diawal kata pengantar buku tersebut.
Perempuan lulusan program S2 jurusan pendidikan Geografi Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan predikat cumlaude tahun 2015 lalu ini menceritakan begitu banyak rintangan yang harus dilalui dalam proses membuat buku, namun semua dilaluinya dengan penuh sukacita dan terus berusaha untuk melaluinya. “Syukur dan Puji Tuhan semua sudah saya lalui dan tinggalmenunggu hari untuk melaunchingnya,” kata Vonny.
Keinginannya Bertemu Gubernur Provinsi Papua
Selama ia bersastra membacakan ciptaan puisinya dihadapan khalayak banyak seperti Bapak Ibu Menteri-menteri RI, KPK RI, Gubernur, Wali Kota dan Bupati yang ada di luar Papua. Sayangnya, ia tak pernah bertemu dengan orang nomor satu di Tanah Papua.
“Saya tuh pingin sekali ketemu Bapak Gubernur Papua Lukas Enembe, membacakan puisi dihadapan beliau dan juga menyerahkan karya-karya yang selama ini saya punya. Setidaknya dengar keluh kesah saya selama ini,” kata Vonny dengan mata berkaca-kaca sembari ditutupi dengan senyum tipis.
Bapak Lukas Enembe dengar suara hati perempuan Papua yang lemah ini, lanjutnya buka tangan dan rangkul sastrawan di Papua. Curhat bersama Pak Gubenur tentang semua yang telah terjadi dalam hidup para sastrawan di Papua.
“Sekali-kali kami dipangil dan datang bertemu Bapak. Saya dengar Bapak berikan sambutan dalam Festival Reage tahun 2018 lalu dan katakan sangat bangga dengan anak perempuan Papua. Saya anak perempuan Papua ingin bertemu dan berkeluh kesah banyak hal ke Bapak Papua Tercinta,” kata Vonny sambil meneteskan air mata.
Dirinya mengetahui Bapak Gubernur Lukas Enembe juga memiliki karya yang telah di Bukukan dan mewakili sastrawan di Papua ia berharap orang nomor satu di Papua itulah menjadi Bapak Literasi.
“Papua ini tak punya Bapak Literasi, bagaimana kalau Bapak Lukas Enembe menjadi Bapak Literasi dan merangkul anak-anak Papua yang suka untuk menulis. Karena sosok pimpinannya suka menulis kan? Bapak kami berdiri untuk barisan itu,” ujarnya.
Harapannya, kedepan akan lahir banyak anak-anak muda di Papua mengharumkan Papua lewat karya sastra. Merekan seluruh kejadian dan hal-hal yang ada di papua dalam bentuk karya sastra, baik itu puisi, cerpen, esai atau novel.
“Itu sangat langka. Bisa di bilang bahwa buat anak Papua itu tidak se-seksi politik, bola kaki, menari dan menyanyi ketimbang menulis karya sastra. Karna selama ini saya lihat dukungan yang ada hanya berupa memberikan buku bacaan, berapa banyak anak Papua suka membaca? tidak banyak, apalagi menulis,” tutupnya.
(IND)








Apa komentar anda ?