JAYAPURA, nokenlive.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra Papua. Nasen Ginibak, pemuda asal Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, berhasil menembus persaingan beasiswa internasional dan diterima untuk melanjutkan pendidikan jenjang Magister (S2) di Rumania. ROMANIAN GOVERNMENT SCHOLARSHIP. Nasen Ginibak Master of Energy Engineering di National University of Science and Technology POLITEHNICA Bucharest.
Nasen menjadi salah satu mahasiswa asal Indonesia yang berhasil lolos dari sekitar 88 ribu pendaftar dari berbagai negara di dunia.
Ia merupakan salah satu dari 15 mahasiswa binaan Papua Language Institute (PLI) yang dinyatakan lulus dalam program pendidikan S2 hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Puncak dengan Yayasan Maga Edukasi Papua.
Dari 30 peserta yang mengikuti program pembinaan tersebut, sebanyak 15 mahasiswa dinyatakan lulus. Sebanyak 11 mahasiswa akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, yakni Rusia, Selandia Baru, dan Rumania.
Sementara empat mahasiswa lainnya melanjutkan pendidikan S2 di dalam negeri.
Keberhasilan Nasen tidak diraih secara instan. Sebelum mengikuti seleksi dan melanjutkan studi ke luar negeri, para peserta menjalani pembinaan dan pembelajaran selama satu tahun di Papua Language Institute.
Pembinaan tersebut mencakup kemampuan bahasa, akademik, hingga persiapan menghadapi kehidupan dan lingkungan pendidikan di negara tujuan.
Guru pembimbing Papua Language Institute, M. Fatih Avicena Lasmana, B.A., atau yang akrab disapa Sir Afin, mengatakan keberhasilan Nasen menjadi bukti bahwa anak Papua mampu bersaing dalam seleksi pendidikan internasional.
Fatih sendiri merupakan lulusan salah satu universitas di Rumania dengan jurusan Hubungan Internasional dan Studi Eropa. Ia kini mendapat mandat dari Kedutaan Besar Rumania untuk mengajarkan bahasa Rumania kepada mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan di negara tersebut.
Menurut Fatih, kemampuan bahasa menjadi modal penting bagi mahasiswa sebelum meninggalkan Papua.
“Mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk memahami materi perkuliahan, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Fatih.
Karena itu, mahasiswa dibekali kemampuan kosakata, tata bahasa, writing, listening, dan speaking. Pembelajaran bahasa Rumania diarahkan pada dua kebutuhan utama, yakni komunikasi sehari-hari dan komunikasi dalam lingkungan akademik.
Selain bahasa, mahasiswa juga mendapatkan pendampingan dalam proses persiapan studi. Pendampingan tersebut dilakukan agar mahasiswa memiliki kesiapan akademik maupun mental sebelum benar-benar berangkat ke Rumania.
Fatih menilai pendidikan di Rumania memberikan peluang luas bagi mahasiswa Papua untuk memperoleh pengalaman internasional.
Menurutnya, Rumania merupakan bagian dari Uni Eropa sehingga pengalaman pendidikan di negara tersebut dapat menjadi salah satu pintu bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik dan kehidupan di negara-negara Eropa lainnya.
“Belajar di Rumania itu menjadi pintu gerbang untuk bisa mengeksplorasi negara Uni Eropa lainnya,” ujarnya.
Fatih juga mengungkapkan bahwa proses persiapan studi ke Rumania dilakukan melalui beberapa jalur, baik melalui beasiswa pemerintah maupun jalur mandiri.
Ia menambahkan, dukungan Kedutaan Besar Rumania terhadap program tersebut turut membuka peluang bagi mahasiswa Papua untuk mengenal pendidikan dan budaya Rumania.
“Dari 88 ribu pendaftar seluruh dunia, PLI bisa mendapatkan special case untuk mendapatkan rekomendasi langsung dari kedutaan,” katanya.
Menurut Fatih, keberhasilan satu mahasiswa Papua dalam menembus persaingan internasional dengan puluhan ribu pendaftar merupakan capaian yang patut diapresiasi.
Ia berharap kesempatan seperti ini dapat terus diberikan kepada anak-anak Papua, khususnya generasi muda dari Kabupaten Puncak.
Program kerja sama Pemerintah Kabupaten Puncak dan Yayasan Maga Edukasi Papua melalui Papua Language Institute diharapkan tidak berhenti pada keberangkatan mahasiswa ke luar negeri. Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia Papua yang memiliki pengalaman dan kompetensi internasional.
Para mahasiswa yang nantinya menyelesaikan pendidikan diharapkan dapat kembali ke Papua dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk mendukung pembangunan daerah.
Keberhasilan Nasen Ginibak menjadi salah satu contoh bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang bagi anak-anak Papua untuk bersaing di tingkat global, sepanjang mendapat akses, pembinaan, dan kesempatan pendidikan yang memadai.
(Lisa -Redaksi DA)







Apa komentar anda ?