NABIRE, Nokenlive.com – Pada malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-4 Provinsi Papua Tengah, yang di gelar di pelataran kantor Gubernur itu, sorotan bukan hanya tertuju pada kemeriahan panggung melalui konser Rohani dan Doa syukur. Di antara rangkaian acara itu, ada satu momen yang seolah menghentikan waktu dimana Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley berdiri saling berhadapan, lalu serempak mengangkat tangan memberi hormat satu sama lain.
Tak ada kata-kata, hanya sebuah gestur yang berbicara lebih lantang dari pada seribu kalimat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanyalah moment biasa namun tidak bagi masyarakat Papua Tengah. Momen tersebut adalah moment mahal dan langkah yang jarang terlihat di pejabat manapun. Ini menjadi simbol bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, melainkan tentang saling menghargai, saling menguatkan, dan berjalan bersama mengemban amanah rakyat.
Keduanya datang dari perjalanan hidup yang berbeda. Meki Nawipa mengawali karier sebagai seorang pilot yang menghabiskan bertahun-tahun di balik kokpit pesawat, menghubungkan wilayah-wilayah pedalaman Papua yang sulit dijangkau. Setelah itu ia dipercaya memimpin Kabupaten Paniai sebagai Bupati sebelum akhirnya mendapat amanah sebagai Gubernur Papua Tengah, provinsi yang lahir dari semangat pemerataan pembangunan.
Sementara Deinas Geley mengabdikan dirinya melalui jalur pemerintahan daerah, pernah memimpin sebagai Wakil Bupati Puncak Jaya dan kini mendampingi Meki Nawipa sebagai Wakil Gubernur Papua Tengah. Dua latar belakang yang berbeda itu kini dipertemukan dalam satu tujuan yang sama membangun provinsi termuda di Tanah Papua agar tumbuh lebih maju, damai, dan sejahtera.

Momen saling memberi hormat itu seolah menjadi cerminan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak dibangun oleh ego, tetapi oleh rasa hormat. Di tengah dinamika pemerintahan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, gestur tersebut menghadirkan pesan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur bukanlah dua kutub yang saling berhadapan, melainkan dua pemimpin yang berdiri sejajar, saling menghormati, dan saling menopang demi kepentingan masyarakat.
Empat tahun perjalanan Papua Tengah masih tergolong singkat. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Namun sebuah pembangunan yang kokoh selalu berawal dari fondasi yang kuat yaitu kebersamaan para pemimpinnya. Peringatan HUT ke-4 Papua Tengah sendiri juga menjadi momentum bagi pemerintah provinsi untuk menegaskan kembali komitmen terhadap pembangunan dan pelayanan publik.
Karena itu, gambar yang di ambil pada moment ini, lebih dari sekadar dokumentasi sebuah acara. Ia menjadi pengingat bahwa dalam budaya Papua, penghormatan adalah bentuk penghargaan terhadap sesama. Dan ketika dua pemimpin saling memberi hormat di hadapan rakyatnya, mereka sedang menyampaikan pesan yang sederhana namun bermakna bahwa kepemimpinan terbaik lahir dari kerendahan hati, bukan dari tingginya jabatan. (Redaksi)







Apa komentar anda ?