PUNCAK, NOKENLIVE.com – Yayasan Binterbusi menyampaikan kronologis lengkap meninggalnya Anianus Murib, salah satu peserta Program Puncak Cerdas, yang wafat setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Santa Elizabeth, Semarang. Jenazah almarhum kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Puncak untuk diteruskan kepada keluarga di Ilaga, Senin (9/2/2026).
Ketua Yayasan Binterbusi, Pascalis Abner, mewakili lembaga dan pribadi, menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya almarhum. Ia menegaskan pihak yayasan telah berupaya maksimal memberikan pengobatan dan perawatan selama Anianus menjalani perawatan di Semarang.
“Atas nama pribadi dan pimpinan yayasan, kami menyampaikan bahwa seluruh kepercayaan yang diberikan kepada kami telah diupayakan semaksimal mungkin melalui pengobatan dan perawatan terbaik. Namun Tuhan memiliki rencana lain,” ujar Pascalis.
Pascalis menjelaskan, Anianus Murib merupakan peserta Program Puncak Cerdas, program unggulan Pemerintah Kabupaten Puncak yang bertujuan mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan daerah.
Ia memaparkan, Anianus pertama kali sakit pada 12 Januari 2026 dan langsung dirawat di Rumah Sakit Santa Elizabeth, Semarang. Pada 17 Januari 2026, kondisi Anianus sempat membaik dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit atas permintaan keluarga untuk melanjutkan perawatan bersama keluarga.
Namun, pada 20 Januari 2026, saat hendak diberangkatkan pulang, kondisi Anianus kembali menurun sehingga pihak bandara tidak mengizinkan yang bersangkutan untuk terbang. Keesokan harinya, 21 Januari 2026, Anianus kembali dirawat di rumah sakit dalam kondisi tidak sadar dan mengalami halusinasi.
Selanjutnya, pada 26 Januari 2026, almarhum dipindahkan dari ruang High Care Unit (HCU) ke Intensive Care Unit (ICU) untuk mendapatkan penanganan lebih intensif. Selama menjalani perawatan hingga 7 Februari 2026, Anianus ditangani oleh sedikitnya lima dokter spesialis, yakni dokter spesialis saraf, penyakit dalam, jantung, ginjal, dan reumatologi.
Pihak yayasan juga terus melakukan koordinasi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak serta keluarga almarhum. Pada 27 Januari 2026, ayah almarhum, Anies Murib, bersama perwakilan keluarga datang langsung ke Semarang untuk melihat kondisi Anianus.
“Dengan segala daya dan upaya yang telah dilakukan, pada hari Sabtu lalu Tuhan memanggil kembali Anianus ke pangkuan-Nya,” kata Pascalis.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Binterbusi menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Kabupaten Puncak dan masyarakat karena belum dapat menyelamatkan nyawa almarhum. Pihak yayasan juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan.
Pascalis mengenang Anianus sebagai pribadi yang baik, rendah hati, sopan, dan menjadi teladan bagi teman-temannya. Ia berharap seluruh peserta Program Puncak Cerdas lainnya tetap diberikan kesehatan dan dapat menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.
Di akhir kegiatan, Yayasan Binterbusi secara resmi menyerahkan jenazah almarhum Anianus Murib kepada Pemerintah Kabupaten Puncak untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga guna proses pemakaman.
(Lisa – Redaksi MR)







Apa komentar anda ?