JAYAPURA, NOKENLIVE.com- Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Kota Jayapura, Dokter Gigi (drg) Juliana Napitupulu menjelaskan dalam penanganan kasus stunting atau masalah kekurangan gizi pada balita dan anak, ada dua aspek yakni, gizi spesifik dan gizi sensitif.
Hal tersebut dikatakan saat diwawancarai wartawan diruang kerjanya pada hari Senin, (15/9/2025).
Kata Dokter Juliana Napitupulu, untuk aspek gizi spesifik itu dilakukan langsung oleh Dinas Kesehatan. Sedangkan yang secara sensitif itu merupakan bentuk penanganan yang melibatkan lintas sektor instansi atau dinas dan lembaga terkait dalam menangani persoalan stunting di Kota Jayapura.
“Khusus Kota Jayapura sampai dengan tanggal 31 Agustus 2025 kasus stunting mencapai 1.145 anak dengan stunting yang terdata oleh Dinas Kesehatan Kota Jayapura dari total balita penderita stunting sebanyak 7.556 anak “ jelasnya.
“Jumlah penderita stunting di Kota Jayapura 1.145 anak atau sekitar 15,15 persen ini data laporan setiap bulan berjalan,” sambung dia.
Juliana menyebutkan bahwa pihaknya tengah melakukan berbagai upaya, milai dari pemeriksaan secara rutin kepada balita dan anak yang stunting misalnya, ada yang punya penyakit bawaan ini sangat perlu diobati secara intens, lalu mengadakan ILP atau layanan integrasi primer dengan menyediakan posyandu bagi ibu hamil hingga melahirkan guna melihat perkembangan balitanya dan sebagainya.
“Kami juga melmberikan imunisasi dan makanan vitamin serta buka layanan pemeriksaan kesehatan gratis,” katanya..
Dia menyatakan, stunting bisa terjadi, karena tempat tinggal warga yang kurang mempunyai ventilasi udara yang cukup, sarana prasarana dasar, seperti jamban dan air bersih di lingkungan. Selain itu, warga tidak mempunyai kartu BPJS, sehingga enggan melakukan pemeriksaan anaknya ke pusat layanan kesehatan. (Melviandres Pamanggori/Fredik)





Apa komentar anda ?