Jayapura, Nokenlive.com – Berani dan percaya kepada Tuhan, membuat Shinta menyatakan tekadnya untuk bergabung bersama tim medis yang dikhususkan menangani pasien positif Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, Provinsi Papua.
Perempuan bernama lengkap Shinta Aprilia Awaludin, mengisahkan pengalaman susah senang yang dialaminya bersama tim medis yang ditunjuk oleh manajemen rumah sakit untuk menangani pasien corona yang dirujuk untuk di rawat di ruang isolasi rumah sakit rujukan nasional di wilayah paling timur Indonesia ini.
Bergabung dengan tim perawat pasein Covid-19 adalah pilihan terberat yang harus ia ambil, pasalnya ia harus meninggalkan buah hatinya yang baru berusai enam tahun untuk dijaga ayahnya yang berusaia 86 Tahun, mengingat suami sudah tiada.
Shinta terpaksa harus menitip putri satu-satunya bernama Kansha dan ayahnya Djumat Awaludin untuk tinggal bersama kakak kandungnya di Deplat, Distrik Jayapura Utara. Karena sejak 15 Maret 2020 sudah masuk asrama dan tidak bertemu dengan keluarganya.
“Saya tinggalkan anak satu berumur enam tahun dengan bapak saya yang sudah berumur 86 tahun. Saya tinggal di Asrama sejak 15 Maret 2020, saya sudah terpisah dari keluarga karena tidak pulang ke rumah karena takut membawa pulang virus jadi saya harus tinggalkan keluarga,” katanya.
Menurut Shita, sejak awal Maret 2020 wabah virus mulai merebak di Indonesia, RSUD Jayapura mulai bergerak cepat membentuk tim medis guna menangani pasien yang sudah terjangkit virus yang bermula dari negara Cina ini.
Awal tim perawat yang dibentuk oleh rumah sakit milik Pemerintah Provinsi itu sebanyak 15 orang terdiri dari tenaga perawat sebanyak 13 orang termasuk dirinya, dan dua petugas “cleaning service”, serta dibantu satu petugas gizi dan satu petugas laboratorium.
Awal terpilih menjadi tim tim medis perawatan Covid-19, ia berpikir dua kali lipat, gelisah, rasa takut tiba-tiba menghantuinya karena virus ini berbahaya dan membunuh.
Rasa takut yang luar biasa membuat ia tidak bisa tidur semalam, sepanjang malam ia hanya berdoa minta petunjuk dari Tuhan, apakah harus menerima atau menolak tugas ini kapan saja virus ini bisa mengancam nyawanya.
Namun atas berkat kekuatan doa dan pertolongan Tuhan, Shinta mau melayani pasein Covid-19 sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit. Ia satu dari ratusan tenaga perawat perempuan yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan menangani pasein Covid-19.
“Dari sekian banyak di RSUD Dok II Jayapura, hanya tiga orang perawat perempuan yang awalnya dipilih dalam tim medis, mereka adalah ia sendiri rekannya Samalina Giyai dan Astriani,” Kata Shinta.
Wanita berusia 35 tahun ini mulai menjalankan tugasnya sebagai tim medis yang merawat pasien Covid-19, dalam melakukan tugas setiap hari bergantian jaga dan selalu berdampingan dengan perawat laki-laki dari pagi, sore hingga malam hari.
“Tak kenal lelah melaksanakan tugas sesuai jadwal yang ditetapkan pihak rumah sakit. Kalau dinas pagi pukul 08.00 WIT dan berakhir pada pukul 15.00 WIT, setelah selain baru bisa melepas alat Pelindung Diri (APD) dan harus mandi, sterilkan badan lagi baru kita pulang ke asrama,” ujarnya.
Memang ada selang waktu untuk beristirahat, namun selalu dalam bayangnya dengan ganasnya virus ini. APD yang dipakai sesuai waktu, yakni selama delapan jam bertugas. Setelah delapan jam, APD dibuka dan langsung dimusnahkan.
“Memang semua serba hati-hati, karena hanya sekali pakai, langsung dimusnahkan dengan cara dibakar,” ungkap Shinta.
Menggunakan dan melepas APD harus sesuai dengan SOP, ada tempat khusus yang disediakan, dilengkapi dengan cairan disinfektan agar setiap kali mengganti APD harus disemprot agar virus corona dipastikan mati.
Sedih bercampur rindu, namun ia harus jalani tugas yang diembannya, ia selalu berdoa agak keluarganya tidak terpapar virus ini, terutama putri semata wayang ada ayahnya tercinta.
“Teman-teman saya juga meninggalkan keluarga, keponakan, dan orang tua. Mereka juga tinggal di asrama untuk melayani pasien yang terjangkit virus corona ini,” ujarnya.
Shinta menceritakan, terkadang ia rindu, tapi apa daya ia tidak bisa pulang, ia hanya bisa melepas rindunya lewat videocall. Komunikasi via telponpun terbatas waktunya, karena selama masa dinas telpon ditinggal di asrama.
“Sering kita videocall pada saat lepas dinas. Karena tidak bisa menggunakan handphone di ruang isolasi. Handphone semua perawat ditaruh di asrama. Kecuali sangat mendesak, dipakai handphone yang ada di ruang isolasi untuk menelepon keluarga,” katanya.
Shinta hanya bisa berharap, wabah ini cepat selesai agar ia bisa pulang untuk bertemu dengan anaknya dan orangtuanya, serta menjalani hari-harinya seperti biasa. (Jack/ANT)





Apa komentar anda ?